The first time…(liburan part 5)

            Hari ini adalah hari ke-3 di Jogja, bertepatan tanggal 10 juni 2008. Langkah kami menuju ke salah satu keajaiban dunia. Sudah tau kan?. Yap kami ke Borobudur dengan menaiki bus Yogya-Borobudur. Kira kira pukul 10.30 am kami tiba. Dan segera berlari menaiki puncak borobudur. Sebenarnya apa tujuan ke objek bersejarah seperti ini..?..tentu untuk belajar, mengenal, melihat secara langsung, membuktikan kebenaran, dan foto-foto…tapi setelah kupikir-pikir dan kuingat-ingat ternyata aku tidak ingat dengan sejarah candi mega ini!! Yang ku tahu hanyalah candi ini merupakan salah satu keajaiban dunia!!.. (bagi yang mengerti tolong memberi tahu saya). Aku tahu bahwa pelajaran sejarah itu sangat diperlukan, tapi tetap saja aku ga minat. Maaf ya…

            Dalam kondisi ini, aku memang sangat menyesalkan kurang berpengetahuan tentang borobudur. Jadi aku menarik kesimpulan bahwa ‘kalau kita ke sini dengan guide, ok kita bersiap untuk mempelajarinya. Tapi bila tanpa guide, tujuannya adalah foto-foto..dan membuat kenangan pribadi’ sekian….(kalo pulang buru2 buka buku sejarah..hehehehe…)

borobudur nan mega

         

 

            Ini perbedaan Samarinda dan Yogyakarta..

Yogyakarta :     Angkutan umum adalah bus dan taxi.

                        Tidak ada angkot (yang bentuknya mobil carry).

                        Banyak andong.

                        Banyak becak.

                        Sungai dan jembatan layangnya jarang.

                        Mayoritas penduduk menggunakan bahasa Jawa.

 

Samarinda :      Angkutan umum adalah angkot (seperti mobil carry).

                        Bus dan taxi hanya digunakan antar kota.

                        Tidak ada andong.

                        Tidak ada becak.

                        Banyak sungai dan jembatan layang.

                        Mayoritas penduduk menggunakan bahasa Indonesia.

 

            ”Kalau sama orang tua ngomongnya pakai bahasa kromo…lumayan susah” kata temenku. Katanya ini penting karena bahasa ini adalah bahasa yang sopan dan lazim dipakai ke orang-orang tua. Pengalamanku yang satu ini menyadarkanku bahwa bahasa ini sangat penting : ‘ ketika itu aku dan dua orang temenku berada di dalam bus ingin pulang. Tepat di sebelahku ada seorang nenek yang duduk, dan seketika menanyaiku  “jam pinten ?” dengan suara yang kecil..aku tidak jelas mendengarnya, hanya melihatnya sekilas “iya bu?” aku menjawab…”jam pinten mba??” dia mengulang… aku menyenggol tangan temenku, lama tak ku jawab..”JAM BERAPA??” dengan keras dan lantang nenek itu menanyaiku….uhhhh malu!!! Aku sama sekali tak membaca keadaan ditambah lagi dengan aku ga ngerti bahasa jawa..!, untunglah temanku yang tadi kusenggol sigap membuat teriakan nenek itu reda…huah…sebegitu keraskah adat istiadat yang mesti diterapkan supaya budaya Indonesia yang kaya ini tak terhapuskan dengan adanya perkembangan zaman…???.  Sebelumnya yang aku tau ‘jam piro?’ bukan ‘jam pinten’(ini yang namanya kromo…)…hehehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: