Suaraku ternyata auratku..

Kata ‘ternyata’ diatas dapat disimpulkan bahwa aku baru saja menyadari bahwa suara wanita itu merupakan salah satu aurat. Dan tahukah aurat itu harus di sembunyikan pada insan yang bukan muhrim. Lalu bagaimana kalau kita berbicara? Hal ini berbeda, kita telah diberi mulut untuk berbicara, yah.. memang pada hakekatnya kita harus berbicara dengan suara.

Terfokus pada saat wanita mengekspresikan kebahagiaannya, bahagia berarti tersenyum, bahkan tertawa. Jadi  dalam Ta’lim yang secara rutin dilaksanakan di asramaku yang kebetulan membahas tentang Aurat wanita ini, memberitahuku bahwa seorang wanita hendaknya tersenyum ataupun tertawa tanpa menampakkan giginya..

“Miss, kalau udah jadi ciri khas atau udah jadi kebiasaan tertawa terbahak-bahak, keras, nyaring sampai sampai bisa terdengar di 2 lantai bawahnya atau 2 lantai atasnya gimana donk?”

“Nah sekarang sudah tau kan bahwa naluri seorang wanita sebaiknya bagaimana supaya mendapat berkah dari Sang Pencipta!!”

“>_<” wow..

So, I’ve lots of sins coz of this simple thing.

Walaupun terhadap sesama wanita hendaknya juga tidak memperlihatkan gigi, dan rasanya juga lebih terhormat right!!. Terpenting adalah membaca Al-qur’an, memang diwajibkan memberikan suara indah dalam berkomunikasi dengan Sang Pencita kita, tapi adab yang membuktikan bahwa suara kita tak boleh didengan oleh lelaki ketika kaum wanita membaca Kitab Suci.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: