Begini asosiasinya. , di suatu toko buku,banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi.
Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang
ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul
sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu
juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh
coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak
tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali,
dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli
sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama
kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan
untuk membelinya
Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu
adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak
hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah. .!
Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah
siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani
dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan
transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang
iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman
sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan
kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih
dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan
free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya
dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah
toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik
maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah
sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh
iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi
Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu.
Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga
akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak
main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah
makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia
semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.
Ditulis dalam Friends, Journal, Links, elly, i'm moslem, important in my life, math, math..physic..SAINS